Sunday, August 7, 2022

Sunnah Sebagai Kekuatan Ruhiyah

 


“Tidaklah yang diucapkan oleh Nabi Muhammad SAW berdasarkan hawa nafsunya, melainkan semua itu adalah wahyu yang diwahyukan Allah SWT kepadanya”. Wahbah Dzuhaily dalam tafsirnya al-Munir mengomentari ayat ini dengan mengutip hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad: Abdullah bin Umar berkata: “aku senantiasa menuliskan setiap yang aku dengar dari Rasulullah SAW, dengan maksud memeliharanya. Lalu beberapa orang Quraisy melarangnya dan berkata: “sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah, padahal ia hanya manusia biasa, sama seperti kita, bisa saja berbicara dalam keadaan marah”. Maka setelah itu aku pun berhenti menulis, selanjutnya aku ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah, maka beliau bersabda: tulislah, demi Allah, demi Rabbi yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari diriku melainkan suatu kebenaran”.

Melalui ayat  di atas, teranglah bagi kita umat Islam bahwasanya segala sesuatu yang berasal dari Nabi Muhammad SAW baik itu perkataan, perbuatan maupun taqrir (persetujuan) dan segala tindak tanduk prilaku, sifat dan karakter Nabi merupakan sumber hukum, pedoman dan petunjuk bagi kita umat Islam. Dimana jikalau kita mencontoh dan mengamalkan seluruh sunnah yang berasal dari beliau niscaya kita tidak akan tersesat, bahkan kita meyakini bahwa semua sunnah tersebut merupakan semuanya berisi kebaikan yang berbuah pahala kalau kita amalkan.

Dalam disiplin ilmu hadits dan ilmu ushul memang terdapat perbedaan pendefinisian dan pemaknaan sunnah (hadits) menurut masing-masing kelompok ulama ahli hadits dan kelompok ulama ahli ushul. Kelompok ulama ahli Ushul (ushuliyyun) menempatkan dan mendefinisikan sunnah sebagai segala sesuatu selain al-Qur’an yang berasal dari Nabi, baik perkataan, perbuatan dan taqrir beliau yang dapat dijadikan sumber hukum saja. Dari pengertian hadits (sunnah) di atas tampak ulama ushul membedakan, ada sunnah Nabi yang dapat dijadikan sumber hukum dan ada sunnah Nabi yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber hukum, atau dikalangan ahli ilmu lebih dikenal dengan sebutan sunnah tasyri’iyyah dan sunnah non-Tasyri’iyyah. Pembagian ini tentu akan berimplikasi kepada sunnah secara keseluruhan, baik perkataan, perbuatan maupun taqrir Nabi yang akan berpengaruh kepada tingkatan hukum dari sunnah itu sendiri, apakah akan melahirkan hukum wajib, sunnah, haram, makruh atau hanya sekedar mubah saja.

Sebaliknya ulama Hadits berpandangan berbeda, menurut mereka tidak ada pembagian terhadap sunnah Nabi, apakah ada yang bisa dijadikan sebagai sumber hukum atau tidak. Menurut mereka asal semua yang bersumber dari Nabi, baik itu perkataan, perbuatan maupun taqrir beliau adalah semua “wahyu” yang berisi keterangan, petunjuk, pedoman dan bisa dijadikan sebagai sumber hukum dalam Islam.

Terlepas dari sikap dan pandangan berbeda dari ulama ushul dan ulama hadits tentang hakikat sunnah sebagai sumber hukum dalam Islam. Setidaknya ada dua sunnah Nabi Muhammad SAW yang memiliki konsekunsi hukum yang sangat kuat karena disertai qarinah atau penjelasan lain dari al-Qur’an dalam pensyari’atannya. Bahkan bagi Nabi kedua perbuatan tersebut termasuk kepada pembagian sunnah kekhususan bagi beliau, dimana konsekuesni hukum yang berlaku juga berbeda, yaitu wajib bagi Rasul, dan hanya sunnah bagi umatnya. Dan sikap ini sama-sama disetujui oleh dua kalangan ulama hadits dan ulama ushul dalam hal tingkatan hukum. Dua sunnah yang sangat dicintai Allah dan Rasul-Nya itu adalah mendirikan shalat malam (tahajjud) dan tilawatil Qur’an. Tentang perintah mendirikan tahajjud tergambar jelas dalam Firman Allah SWT dalam surah al-Isra’ ayat 79:

Artinya: Dan pada sebahagian malam hari shalat tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.

            Sedangkan untuk perintah membaca al-Qur’an banyak ayat yang membicarakannya. Salah satu di antaranya adalah Firman Allah dalam surah al-Muzammil ayat 4 dan 20:

Artinya: Atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah al-Quran itu dengan perlahan-lahan.

Artinya: Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari al-Quran.

Tokoh pergerakan Islam modern Hasan al-Banna ketika sedang memberikan pembekalan kepada para da’i dan calon khatib berkata “maka berpuasalah pada hari kamis dan dirikanlah shalat tahajjud di malam harinya”. Hasan al-Banna menyadari betul bahwa mendakwahi manusia termasuk khutbah jum’at adalah proyek Ilahiyah mengubah hati manusia. Dan sungguh tak ada yang kuasa mengubah hati manusia kecuali Allah SWT. Karenanya ia selalu menekankan para da’i untuk mendekat kepada Allah sedekat-dekatnya, hingga Allah berkenan menolong para da’i-Nya, membersamai dakwah mereka dengan hidayah Allah.

Dan inilah rahasia kekuatan dakwah yang dipelopori al-Banna kala itu, yaitu kekuatan ruhiyah. Maka dalam waktu singkat orang-orang berbondong-bondong menyambut dakwah Islamiyah yang digelorakan olehnya. Cabang dakwah ikhwan meyebar dengan cepat ke puluhan kota di Mesir dan di seluruh penjuru dunia. Khutbah Jum’at dan ceramah-ceramah da’i ikhwan ditunggu-tunggu. Umat seperti bertemu dengan oase yang telah lama hilang.

Taujih Hasan al-Banna kepada para khatib untuk mengutamakan ruhiyah itu sebenanrnya berangkat dari pemahamannya yang saymil (sempurna) tentang konsep dakwah Rasulullah SAW. Taujih kekuatan ruhiyah itu sebenarnya berangkat dari komitmen ittiba’ (mengikuti) terhadap sunnah dan dakwah Nabi. Ketika Nabi diutus menjadi Rasulullah dan diperintah oleh Allah untuk mendakwahi manusia. Allah menuntunnya terlebih dahulu dengan membangun kekuatan ruhiyah dengan bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah. Maka Allah turunkan surah al-Muzammil ayat 1-6.

Dua di antara amal untuk membangun kekuatan ruhiyah itu adalah shalat malam dan tilawah al-Qur’an. Jika hari ini dakwah kita kurang disambut, periksalah kedekatan kita dengan Allah. Jika seruan kita kurang didengar, periksalah hubungan kita dengan Allah Azza wa Jalla. Sudahkah kita bangun di tengah malam atau disepertiga malam untuk shalat tahajjud dan bermunajat kepada-Nya? Atau kita asik mendengkur di atas kasur? Lalu bagaimana Allah akan memberikan kekuatan-Nya untuk mengubah umat, jika kita sendiri lalai. Bisa saja kita beralasan lelah, tidur kemalaman karena kativitas dakwah yang padat. Namun, apakah Allah menerima alasan-alasan tersebut.?

Sudah kah kita mendawamkan tilawah? Atau hari-hari kita lewat begitu saja tanpa membaca Firman-Nya dengan tartil serta mentadabburinya? Lalu bagaimana Allah akan memberikan kekuatan-Nya pada kata-kata kita, jika lisan kita tidak akrab dengan Firman Allah? Bisa saja kita beralasan banyak kesibukan, tidak ada lagi waktu karena padatnya aktivitas pekerjaan, namun apakah Allah akan menerima begitu saja alasan-alasan tersebut?

Kepada para pemimpin negeri sudahkah anda bangun malam serta mendawamkan al-Qur’an disetiap pagi sebelum anda memulai tanggung jawab serta amanah yang dititipkan rakyat kepada anda, sehingga suara anda didengar oleh rakyat? Sudahkah anda berdo’a disepertiga malam untuk kemakmuran negeri ini? Semoga sudah, yang dengan dua sunnah tersebut mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan Rahmat dan pertolongan-Nya disetiap langkah kaki kita. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

No comments:

Post a Comment

Refleksi Keptauhan di Hari Raya Kurban

Alhamdulillah, lebih kurang satu pekan lagi sekitar satu miliar umat muslim dunia akan merayakan hari Raya Idul Adha 1441 H, yang mana didal...