Alhamdulillah, umat muslim di seluruh penjuru dunia sedang bersuka
cita karena datangnya bulan suci Ramadhan tahun 1443 H. Di bulan Agung ini, umat
muslim akan merasakan nikmatnya beribadah karena Allah akan melipatkan gandakan
pahala di dalamnya. Ramadhan merupakan bulan istimewa, bulan yang dinantikan
oleh seluruh kaum mukmin laki-laki dan wanita sebagai bulan untuk melatih diri
menjadi manusia yang bertakwa. Oleh karena itu, sebagai salah satu jalan meraih
derajat takwa, maka sangat diperlukan beberapa persiapan dalam menyambutnya
agar ibadah tahunan tersebut mampu memberikan kesan yang mendalam kepada shaimin
(orang yang berpuasa). Dan diantara persiapan agung tersebut ialah dengan
melakukan proses tazkiyatun nafsi (penyucian jiwa).
Sebagai persiapan agung dibulan yang
agung ini, diwajibakan kepada setiap pribadi muslim untuk mengosongkan jiwanya
dari akhlak serta perbuatan tercela, sebaliknya memasukkan segala
kebaikan-kebaikan kedalamnya, berusaha selalu untuk menyucikan jiwa serta
memperbaikinya. Tazkiyatun nafsi dapat bermakna thaharah,
sebagaimana firman Allah dalam surah al-Syam ayat 10 “sungguh telah menang
orang-orang yang menyucikan jiwanya” yaitu siapa saja yang membersihkan dan
memperbaiki jiwanya. Tazkiyatun nafsi juga bermakna bertambah dan
tumbuh, sebagaimana makna zakat dalam arti bahasa yaitu tumbuh dan bertambah. Diterangkan
dalam hadits Nabi yang berbunyi “tidaklah berkurang harta dari seseorang
yang bersedekah, malah dengan bersedakah akan menambahkan harta seseorang”
Diantara keagungan tazkiyatun
nafsi, bahwa Allah bersumpah di dalam al-Qur’an dengan 11 kali sumpah, yang
menerangkan bahwasanya tazkiyatun nafsi adalah cara untuk meraih
kemenangan, hal itu termaktub dalam surah al-Syam ayat 1 - 7, lalu Allah menutup
sumpah-Nya dengan mengatakan bahwa sungguh beruntung orang yang menyucikan
jiwanya, yaitu orang yang membersihkan dan memperbaikinya. Sebaliknya sungguh
rugi orang yang mengotori jiwanya, yaitu orang yang menghinakannya. Keagungan
lainnya dari tazkiyatun nafsi adalah Allah memberikan balasan yang
tinggi kepada yang gemar menyucikan jiwanya, hal itu tertera dalam surah Thoha
ayat 75, “barang siapa yang datang kepada Allah dalam keadaan beriman dan
mengerjakan kebaikan, maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan
derajat yang tinggi (mulia) yaitu surga-surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan bagi orang yang
menyucikan jiwanya”.
Bahkan hal terpenting dari tazkiyatun
nafsi adalah, ia menjadi salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad
SAW. Allah menjelaskan hal tersebut dalam banyak ayat al-Qur’an, diantaranya
dalam surah al-Baqarah ayat 151,“sebagaimana kami telah mengutus kepadamu
seorang Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepadamu dan
menyucikan diri mu dan mengajarkan kepadamu al-Qur’an dan al-Hikmah (al-Sunnah)
serta mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui”. Makna firman-Nya
“menyucikan jiwa mereka” adalah membersihkan mereka dari keburukan akhlak,
kotornya jiwa dan perbuatan-perbuatan jahiliyyah serta mengeluarkan mereka dari
kegelapan menuju cahaya Allah.
Korelasi antara pentingnya tazakiyatun
nafsi dengan ketakwaan yang akan diraih seorang muslim ketika berpuasa
nanti ialah bahwa ketakwaan kepada Allah yang sebenarnya tidak akan mungkin
tercapai kecuali dengan berusaha menyucikan jiwa terlebih dahulu dan
membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran yang menghalangi seorang hamba untuk
dekat kepada Allah. Sehingga menjadi sebuah keniscayaan syarat utama dalam
menjemput bulan suci Ramadhan adalah berusaha membersihkan dan menyucikan jiwa (tazkiyatun
nafsi) terlebih dahulu.
Sampai disini
muncul pertanyaan, bagaimana seorang muslim dapat menyucikan jiwa serta memperbaikinya?
Maka jalan atau metode untuk menyucikan jiwa itu banyak sekali yang diterangkan
dalam al-Qur’an dan yang telah diajarkan oleh baginda Nabi Muhammad. Salah satu
yang paling penting adalah dengan cara muhasabatun nafsi, yaitu dengan
cara menghisab atau intropeksi diri. Maka wajib bagi seorang muslim untuk
berhenti sejenak dalam kehidupannya untuk merenung dan menghisab dirinya. Sangat
disayangkan waktu yang berjalan hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi
bulan dan tahun demi tahun berlalu begitu saja tanpa ada perenungan didalamnya,
lalu tiba-tiba mendapati diri kita lemah kaku, membisu menghadap kepada Rabb untuk
mempertanggung jawabkan seluruh amal.
Banyak ayat al-Qur’an yang
mengingatkan tentang pentingnya muhasabah ini, diantaranya yang tertera dalam
surah al-Zalzalah ayat 6-8. Allah akan menghitung segala perbuatan manusia baik
yang ditampakkan maupun yang disembunyikannya. Allah berfirman dalam surah al-Mujadalah
ayat 6, “pada hari ketika mereka dibangkitkan Allah semuanya, lalu
diberitakan-Nya kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan. Allah mengumpulkan
(mencatat) amal perbuatan itu, padahal mereka telah melupakannya. Dan Allah
Maha menyaksikan segala sesuatu”. Manusia menyangka Allah telah lupa
terhadap semua yang dikerjakan selama di dunia, maka itu adalah sangkaan yang
salah karena Allah mencatat semua apa yang mereka katakan dan yang mereka kerjakan.
Maka pada saat itu kemana hamba akan mengadu, sedangkan semua akan bersaksi
terhadap, mulut, tangan, kaki, mata, kulit bahkan sampai pendengaran dan
penglihatan mereka.
Lalu muncul pertanyaan
kedua, bagaimana seorang muslim menghisab diri mereka? Muhasabatun nafsi,
sebagaimana yang telah diterengkan oleh ahlu ilmi, harus ditempuh melalui 3
tahapan: tahap pertama, yaitu muhasabah sebelum amal, tahap kedua
yaitu muhasabah di pertengahan amal dan tahap ketiga yaitu muhasabah
setelah amal. Adapun muhasabah sebelum amal dimulai dari bangunnya seorang
hamba dari tidurnya dipagi hari, maka ketika bangun dari tidur seorang muslim
harus menyadari sepenuh hati bahwasanya Allah telah kembali memberikan ni’mat
yang besar berupa hari yang baru, dimana banyak dari manusia lainnya yang tidak
dapat menjemput paginya karena Allah telah lebih dahulu memanggilnya. Oleh
karena itu, seyogiayanya seorang hamba memanfaatkan ni’mat Agung tersebut. Tidur
merupakan kematian kecil, sehingga baginda Nabi mengajarkan kepada umatnya kata
yang pertama kali yang mesti diucap oleh seorang muslim ketika bangun dari
tidurnya adalah “alhamdulillahilladzi ahyani ba’da ma amatani wa ilaihi
nusyur”. Ni’mat yang besar dimana seorang muslim bisa bertaubat kepada
Allah, hari baru dimana seorang hamba bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan
keta’atan. Imam Hasan al-Bashri pernah berkata “tidak lah datang suatu hari
dari hari-hari didunia ini melainkan ia berkata, “Wahai manusia! Sesungguhnya
aku akan menjadi saksi (di hadapan Allah) atas apa-apa yang kalian lakukan
padaku”.
Bagi seorang muslim ada tiga hak
yang harus ditunaikan setiap harinya. Hak yang pertama adalah hak Allah atas diri
hamba, kemudian hak hamba atas dirinya, yang terakhir hak harta, keluarga dan
manusia atas diri hamba. Dalam surah al-Qashas ayat 77 Allah berfirman: “dan
carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah Allah anugerahkan
kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah
kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu”. Ahlu
ilmi berkata bahwa ayat di atas mengandung kewajiban pemenuhan 3 hak sekaligus,
yaitu hak kepada Allah, hak terhadap diri sendiri dan hak terhadap manusia
lainnya.
Adapun tahap kedua
dari muhasabatun nafsi yaitu, muhasabah di pertengahan amal. Tahapan ini
ditempuh dengan cara memiliki sikap muraqabatullah, yaitu sikap yang selalu
yakin bahwa seorang hamba merasa terus dipantau dan diawasi oleh Allah. Allah
Maha mengetahui baik yang diperlihatkan maupun yang disembunyikan oleh seorang hamba.
Dalam surah al-Nisa’ ayat 108 Allah berfirman “mereka dapat bersembunyi dari
manusia tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, karena Allah bersama
mereka”. Maka dengan sikap muraqabatullah seorang hamba dapat
terhindar dari segala ma’siat serta prilaku keji dan munkar.
Selanjutnya tahap
terakhir dari muhasabatun nafsi yaitu, muhasabah setelah amal. Muhasabah
setelah amal terjadi pada akhir dari hari seseorang, ketika seorang hamba
hendak menuju ke pembaringannya untuk tidur, maka hisablah diri sekali lagi. Apakah
seorang hamba telah menunaikan hak Allah atas dirinya, hak atas dirinya sendiri
serta hak harta, keluarga dan manusia lainnya atas dirinya? Itulah dasar-dasar
dari muhasabatun nafsi yang menjadi cikal bekal terhadap sempurnanya proses
tazkiyatun nafsi, penyucian dan perbaikan amal seorang hamba ketika
menyambut bulan suci Ramadhan. Kita berdo’a semoga Allah menjadikan Ramadhan tahun ini menjadi Ramadhan
yang paling khusyu’ diantara Ramadhan yang telah kita lalui. Amin Ya Rabbal ‘Alamin.

No comments:
Post a Comment